:

===================

Senin, 14 September 2015

KENALI SEJAK DINI ADHD PADA ORANG DEWASA




ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder seringkali bergandengan dengan depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar. Itulah salah satu penyebab mengapa ADHD pada orang dewasa jarang terdeteksi dan akhirnya mendapatkan pengobatan yang kurang tepat.

“Beberapa gejala ADHD pada orang dewasa sedikit berbeda dengan anak-anak,” kata dr. Andri, psikiater dari Rumah Sakit Omni Alam Sutera, Tangerang. Hal ini disebabkan karena tuntutan lingkungan dan tanggung jawab orang dewasa yang lebih tinggi daripada anak-anak. Jadi, Anda tak akan menemukan pengidap ADHD dewasa yang berlari-lari tanpa henti atau tiba-tiba berdiri di atas meja,  seperti yang mungkin terjadi pada anak-anak.


Berikut ini beberapa tanda yang ditunjukkan oleh pengidap ADHD dewasa:
  • Sulit berkonsentrasi dan tetap fokus. Pengidap ADHD dewasa sulit tetap fokus pada hal-hal rutin. Konsentrasi sering buyar dan cenderung mudah bosan dengan hal-hal yang tidak menarik perhatiannya. Saat melakukan sesuatu cenderung penuh perjuangan. Namun, kesulitan memerhatikan hal-hal yang detil. Akibatnya, pekerjaan yang mereka lakukan menjadi tidak sempurna. Selain itu, mereka juga sulit mengingat dan mengikuti perintah atau petunjuk.
  • Hiperfokus. Pada beberapa kasus, pengidap ADHD justru terlalu fokus – terutama pada pekerjaan-pekerjaan yang menstimulasi rasa penasaran atau yang menurut mereka dapat memberikan manfaat bagi mereka. Namun, pada akhirnya malah  kehilangan waktu dan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang sebenarnya lebih penting, atau yang seharusnya mereka kerjakan. Akibatnya, ini membuat mereka mengalami kesulitan sendiri.
  • Disorganized dan mudah lupa. Kesulitan untuk mengorganisasi pekerjaan. Mereka suka menunda-nunda pekerjaan dan menganggapnya remeh. Sejalan dengan hal itu, mereka biasanya kesulitan memilih prioritas. “Mereka cenderung hidup dalam ‘kekacauan’ dan melakukan hal-hal yang di luar kontrol,” kata dr. Andri. Nah, coba amati kembali rumah atau meja kerja Anda. Selalu berantakan? Bisa jadi ini pertanda lain dari ADHD bagi Anda. Penderita ADHD juga memiliki daya ingat yang buruk.
  • Impulsif. Beberapa pasien ADHD dewasa sering merasa kesulitan dalam menahan diri – baik dalam perilaku, berbicara maupun merespon sesuatu. Ini membuat mereka menjadi terbiasa untuk bertindak cepat tanpa berpikir panjang dan menimbang konsekuensi yang akan mereka terima. 
  • Emosional. Anda mudah marah dan frustasi? Itu adalah tanda lain akan ADHD. Penderita ADHD cenderung sulit mengontrol suasana hati. Beberapa hal lain yang juga sering mereka alami adalah merasa tidak dihargai, sulit beradaptasi, sulit untuk termotivasi, tidak bisa menerima kritik, rendah diri, dan mudah tersinggung.
Hiperaktif. Tanda hiperaktif yang sama –baik pada anak-anak maupun dewasa– adalah mereka cenderung mudah bosan dan sulit untuk duduk diam dalam waktu lama. Selain itu, agitasi atau merasa sulit untuk menahan diri adalah hal lain yang juga terjadi pada mereka. Itulah sebabnya pengidap ADHD biasanya melakukan beberapa hal sekaligus –meskipun mereka melakukannya dengan bersusah payah.

WASPADA 5 GEJALA PERILAKU PADA ANAK REMAJA KITA




Tak jarang perubahan perilaku yang dialami anak dianggap sebagai sebuah fase yang akan berlalu dengan sendirinya.  Padahal, beberapa perubahan perilaku itu bisa menjadi gejala dari adanya gangguan mental yang dialami anak.
Orangtua berperan besar dalam mengurangi keparahan gangguan tersebut dengan cara memberi perhatian pada perubahan perilaku anak. Orangtua juga bisa menggunakan intuisi mereka jika merasa "ada sesuatu yang salah" dengan anak mereka.

Berikut adalah 5 gejala yang perlu diwaspadai dari anak-anak dan remaja Anda.
1. Perubahan mood yang berlangsung lama
Perubahan mood yang berlangsung lebih dari dua minggu adalah indikator kuat adanya gangguan mental pada anak. Perubahan mood ini bisa bervariasi mulai dari hiperaktif sampai terlalu melankolis tanpa alasan yang kuat.
Menurut The National Institute of Mental Health, perilaku "sangat gembira" atau mania dan perasaan "down" atau depresi bisa menjadi tanda adanya gejala gangguan bipolar. Tetapi, perilaku hiperaktif pada anak yang tidak diikuti dengan gejala lesu setelahnya adalah karateristik normal pada anak.
2. Cemas dan takut berlebihan
Takut dan khawatir adalah hal yang wajar dialami anak usia dini. Normal saja mereka merasa takut pada gelap, membayangkan sosok monster, atau takut berpisah dengan orangtua. Untuk anak usia sekolah, cemas sebelum tampil di sekolah atau takut tak diterima teman-temannya, adalah respon yang sehat.
Namun, berhati-hatilah jika rasa takut yang dialami anak sudah berlebihan sehingga mengganggu aktivitas mereka. Mungkin sudah saatnya Anda melakukan intervensi.
3. Perubahan perilaku ekstrem
Mulai membangkang juga adalah fase yang akan dilalui dalam tahap perkembangan emosional anak untuk menuju kemandiriannya. Tetapi ada perilaku pembangkangan yang sangat ekstrem yang disebut dengan OOD. Biasanya gangguan ini dimulai saat anak berusia 8 tahun atau sebelum masuk usia remaja. Salah satu contoh perilaku tersebut adalah membeli beberapa games tanpa ada minat untuk memainkannya.
Gangguan mental yang erat kaitannya dengan perubahan perilaku adalah ADHD, kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar.
4. Perubahan fisik, berat badan naik atau turun drastis
Diperkirakan 80 persen orang yang mengalami gangguan mental mengalami obesitas atau kegemukan. Perubahan fisik yang mendadak yang tidak terkait dengan pubertas bisa menjadi indikator anak menderita gangguan. Demikian pula halnya jika anak tampak tidak nafsu makan, bisa menjadi gejala depresi.
Perubahan fisik yang disebabkan oleh penggunaan alkohol atau obat terlarang juga merupakan gejala depresi pada anak. Para pakar menyebutkan, risiko anak menderita depresi lebih besar jika salah satu atau kedua orangtua juga menderita depresi.
5. Kurang konsentrasi
Anak yang sangat sulit berkonsentrasi juga perlu dicurigai mengalami gangguan mental. Tapi orangtua juga perlu membedakan anak yang memang ingin menonton TV ketimbang mengerjakan PR, dengan anak yang tidak mampu fokus pada acara favoritnya di TV.

Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi pada tugas sederhana adalah gejala dari ADHD atau depresi. Kurang fokus juga bisa disebabkan karena pikiran mereka terpusat pada rasa malu, bersalah, atau kematian. Kurang konsentrasi pada anak akan tampak nyata pengaruhnya pada nilai akademik atau pergaulannya.

Sabtu, 12 September 2015

ADAKAH YANG MENDERITA KATARAK DI RUMAH KITA?




Katarak adalah penyebab utama kebutaan di dunia. Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak (katarak anak-anak), meski kemungkinannya sangat kecil. Penyakit ini umumnya ditemukan pada orang-orang lanjut usia dan dikenal sebagai katarak manula.
Di Indonesia, diperkirakan terdapat sekitar 210.000 penderita baru yang muncul setiap tahun dan lebih dari 50% kebutaan di Indonesia disebabkan oleh katarak.
Katarak tidak menyebabkan rasa sakit atau iritasi. Penderita biasanya akan mengalami penglihatan yang samar-samar dan berkabut, selain itu akan muncul bintik atau bercak saat penglihatannya kurang jelas.
Katarak juga dapat memengaruhi pandangan Anda dengan cara sebagai berikut:
  • Mata yang sensitif terhadap cahaya yang menyilaukan.
  • Sulit melihat saat cahaya remang-remang atau sangat terang.
  • Semua menjadi terlihat ganda.
  • Semua terlihat seperti memiliki semburat kuning atau cokelat.
  • Ukuran lensa kacamata yang berubah.
  • Anda seperti melihat lingkaran cahaya di sekeliling cahaya terang, seperti lampu mobil atau lampu jalan.
  • Penglihatan warna yang memudar atau menjadi tidak jelas.
Jika terdapat perubahan mendadak pada penglihatan Anda, segera lakukan pemeriksaan mata. Jika terdapat katarak, Anda dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata yang dapat memberikan diagnosis dan merencanakan proses pengobatan Anda.
Penyebab katarak belum diketahui secara pasti. Seiring dengan bertambahnya usia, protein yang membentuk lensa mata kian berubah. Hal ini menjadikan lensa mata yang tadinya bening, berubah menjadi keruh. Sampai saat ini, belum diketahui bagaimana proses penuaan dapat berujung pada perubahan protein di lensa mata. Beberapa faktor lain yang akan mempertinggi risiko Anda terkena katarak:
  • Paparan mata terhadap sinar matahari untuk waktu lama.
  • Beberapa kondisi kesehatan seperti diabetes atau peradangan pada bagian tengah mata (uveitis) jangka panjang.
  • Meminum obat kortikosteroid berdosis tinggi dalam waktu lama.
  • Pernah menjalani operasi mata.
  • Riwayat katarak dalam keluarga atau keturunan.
  • Pola makan tidak sehat dan kurang vitamin.
  • Konsumsi minuman keras dalam jumlah banyak secara rutin
  • Merokok
Satu-satunya langkah pengobatan yang terbukti paling efektif adalah operasi. Efek penyembuhan dari operasi akan sangat dirasakan terutama bagi penderita yang kataraknya sudah menghambat kegiatan sehari-hari, seperti mengemudi atau membaca.
Dalam operasi katarak, lensa yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa plastik bening. Operasi tersebut biasanya dilakukan dengan pembiusan lokal agar mata Anda menjadi mati rasa. Karena ini termasuk operasi kecil, maka biasanya tidak perlu menginap di rumah sakit.
Meski pemulihan dari operasi akan membutuhkan beberapa waktu (dari beberapa hari hingga minggu), hampir semua orang yang menjalaninya akan merasakan peningkatan pada penglihatan mereka. Penderita biasanya bisa kembali melakukan rutinitas secara normal dalam waktu dua minggu setelah operasi.
Lensa plastik pada mata Anda disesuaikan untuk tingkat penglihatan tertentu. Setelah opersi, pemakaian kacamata akan diperlukan untuk membantu penglihatan jauh atau dekat. Sama halnya jika Anda telah berkacamata, ukuran lensa bisa berubah. Disarankan untuk menunggu pemulihan sampai selesai sebelum membuat kacamata baru.

KETAHUI TENTANG HEPATITIS PADA ANAK DAN PENCEGAHANNYA




Untuk bisa mencegah hepatitis anak tentunya kita harus mengenal akan berbagai macam tanda gejala hepatitis ini. Karena dengan kita mengetahui sedini mungkin gejala hepatitis pada anak maka kita akan bisa lebih cepat dalam memberikan pertolongan, pengobatan dan perawatan dari penyakit ini.
Penyakit pada organ hati yang disebut dengan hepatitis merupakan penyakit serius yang dapat berakibat fatal baik itu bagi orang dewasa terlebih lagi bila menimpa anak-anak dan bayi. Karakter umum penyakit ini yaitu adanya peradangan pada sel-sel hati. Hepatitis digolongkan dalam beberapa tipe, dan penyebab utama penyakit ini adalah infeksi virus, tetapi ada beberapa faktor lain yang dapat memicunya yaitu parasit, bakteri atau obat-obatan tertentu. Sementara pada bayi, penyakit ini lebih banyak muncul di awal-awal usia bayi (sekitar 2 bulan).
Ada beberapa contoh dari dampak efek negatif virus hepatitis ini misalnya adalah gangguan otak yang mengakibatkan kemunduran mental dan cerebral palsy (lumpuh otak), bisa menyebabkan kerusakan permanen sel hati, dan juga timbulnya sirosis hati (hilangnya fungsi sel-sel hati karena adanya jaringan parut). Sebanyak dari 80% bayi penderita hepatitis biasanya dapat sembuh secara total, dan 20% sisanya akan bisa berpotensi menjadi kronis dan sirosis.
Peran orang tua sangat penting pula untuk bisa mengenali akan ciri tanda hepatitis pada anak bayi. Salah satu gejala hepatitis pada anak adalah kondisi anak terlalu tinggi bilirubin dalam darah bayi (zat racun yang dihasilkan oleh hati). Gejala tersebut terlihat dari tampilan fisik warna kuning pada kulit dan bagin bola mata bayi, urin berwarna gelap, dan faeces berwarna pucat.
Berikut beberapa tanda penyakit hepatitis pada anak yaitu :
  • Ikterus (Badan berwarna lebih kekuning-kuningan) maka pada dahulu orang seringkali menyebut penyakit hepatitis ini dengan penyakit kuning. Ikterus atau ikterik ini adalah sebuah proses terlalu tingginya kadar bilirubin dalam darah bayi (zat racun yang dihasilkan oleh organ hati), yang ditandai dengan warna kuning pada kulit dan bagian putih bola mata bayi, urin berwarna gelap, dan feses berwarna pucat. Itu mengapa pada masa sekarang ini kita seringkali menemui bayi-bayi dijemur pagi hari di sinar matahari pagi akan bisa mengurangi akan kadar bilirubin ini bila kadarnya tidak berlebihan sekali.
  • Berat badan anak cenderung menurun. Tanda ini karena berhubungan erat dengan pola makan dan pemasukan nutrisi sang bayi. Anak yang terkena penyakit hepatitis ini cenderung akan susah makan serta kehilangan akan nafsu makan sehingga berakibat akan penurunan berat badan pula. Dan susah makan adalah ciri khas pula pada hepatitis anak.
  • Demam. Proses infeksi akibat virus hepatitis ini baik virus hepatitis A, hepatitis B, ataupun hepatitis C akan bisa menyebabkan seorang anak atau bayi menderita demam. Maka wajib bagi orang tua bila menemui anaknya kekuningan dan demam lebih baik segera diperiksakan ke tenaga kesehatan untuk diagnosis lebih akuratnya lagi.
  • Rasa tidak nyaman pada organ pencernaan. Organ pencernaan dan organ-organ yang berdekatan dengan organ hati yang terserang penyakit ini sedikit banyak akan terkena imbasnya dan akan menimbulkan tanda serta gejalanya pula. Rasa tidak nyaman seperti halnya perut terasa penuh, kembung, atau sesak. Rasa sakit di bagian kanan atas perut biasanya baru muncul ketika infeksi sudah terjadi selama 6 bulan atau lebih. Kondisi ini pada bayi terlihat dengan tanda-tanda bayi rewel, punggung melengkung serta lutut dirapatkan ke dada karena menahan rasa sakit di perut.
  • Muntah. Bila berkelanjutan rasa tidak nyaman di atas akan menyebabkan akan muntah. Muntah ini akan terjadi karena adanya peradangan dan infeksi serta gangguan dalam sistem pencernaan sang anak/bayi.
Pencegahan hepatitis pada anak dapat kita lakukan dengan cara :
  • Melakukan pemberian imunisasi vaksin hepatitis secara rutin menurut petunjuk medis.
  • Menjaga kesehatan dengan jalan berhati-hati dalam mengkonsumsi obat.
  • Memberikan makanan sehat dan mengandung nutrisi serta gizi yang cukup kepada anak-anak.
Dengan melakukan kiat tips cara mencegah hepatitis ini diharapkan kita bisa melakukan berbagai cara yang sehat agar anak-anak kita terhindar dari penyakit hepatitis ini. Mengingat akan berbagai jenis hepatitis dari hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C yang seringkali mengintai kesehatan anak-anak kita marilah kita untuk membudayakan hidup sehat demi mencegah penyakit hepatitis yang termasuk salah satu jenis penyakit yang menular pula.